Friday, March 02, 2012

Rumah

Hari ini ada lagi yang pergi
Entah berapa ruh hilir mudik menembus langit hari ini
Yang turun siap-siap tarik nafas untuk menangis sekencang mungkin
Yang naik menembus langit kebanyakan tersenyum sumringah penuh rindu

Siapa yang tidak merindukan rumah
Semegah apa pun istana-istana
Tidak ada yang dapat memeluk relung
Sehangat rumah

Aku tengah berdiri di bibir senja
Tersipu menyaksikan lalu lintas perjalanan para ruh
Aku masih berpijak, terbelenggu, kaku oleh balutan daging
Dan rambut panjang yang selalu ku rawat setiap hari tengah menjerat akalku

Wahai mentari yang hendak terbenam malu-malu
Jangan lah megahkan langit kemerahanmu
Tahukah betapa cantiknya kamu, betapa hangatnya kamu, betapa sempurna
Aku kadung rindu rumah, kadung rindu kepada Ayah

Suatu hari ku kan berlari telanjang menerjang awan
Mendobrak pintu-pintu langit
Merobek ruang-ruang hampa
Menepis kabut-kabut buta

Ayah.. ayah.. kita sudah sampai rumah..

Thursday, March 01, 2012

Sekarang bersama Realita

Apakah selama ini dunia berputar di poros yang salah, sampai-sampai aku baru mengerti
Atau hanya aku yang selama ini terlalu berusaha melawan arus bumi, entah untuk apa
Aku duduk diam menatap ke belakang, betapa jauhnya semua peristiwa itu
Apakah benar aku tengah melaluinya?

Aku menarik nafas menatap tanah tempatku berpijak, begitu hijau luas dan segar
Sekarang kah mimpi, atau kemarin, atau besok, atau yang mana?
Jika memang ada yang dinamakan duka, betapa usang rupanya!

Sekarang, hanya ada satu hal yang tidak aku miliki; Alasan
Alasan untuk menangis, alasan untuk berduka, alasan untuk kehilangan
Karena kamu telah menghujaniku dengan realita yang begitu nyata
Apakah arti sebuah alasan yang tergilas waktu?

Bilur-bilur yang tersisa hanya mengenai asa dan harapan
Karena esok tidak ada lagi airmata, tidak ada lagi kehilangan
Hanya ada kerinduan akan sebuah pertemuan yang sejati
Sukacita yang abadi

Teruntuk kamu, untuk kesekian kalinya
Terimakasih.